suatu ketika : Kann Bashiru Prayoga Setyawan

Gema doa mengalun merdu, menggetarkan ruang-ruang kalbu,
bagai dawai – berdenting di antara gerisik ranting-ranting,
bergemericik – laksana kaki air di bukit-bukit,
lalu mengalir ke muara harapan dan mimpi.

Dan wewangian mengharumkan kamar ini.
Perlahan-lahan perempuan itu bangkit, menyentuh kesadarannya yang masih samar-samar.

Entah dari mana asalnya,
terdengar suara lembut namun bergemuruh bagai air terjun di rimba pegunungan.

Lalu tiba-tiba kesenyapan mencekam udara yang kami hirup.
Kemudian searah datangnya sepoi, kabut-kabut tipis dari halimun yang tak diketahui namanya mengaliri udara,
lalu datanglah sesosok raga yang amat anggun namun menyiratkan kekuatan.

Sedikit demi sedikit, tersingkaplah ia.

Lihatlah!
Wajahnya lembut tanpa kelemahan,
tegas tanpa kekasaran,
memimpin tanpa menekan,
terbalur cinta tanpa ketergantungan,
berkarisma tanpa keangkuhan.

Sebuah senyuman menghiasinya sebelum terdengar kata dalam kalimah yang,
menguntai indah seperti permata di leher sang putri; segemilang embun
daun-daun hijau di pagi yang paling berseri, menitik dari belahan jiwa yang bening.

Oh,
ternyata ia memiliki suara yang hanya dimiliki mereka yang penuh kearifan,
ketentraman, dan kebijaksanaan.

Maka, gema suara itu menuntun manusia mengelilinginya,
lalu cahaya demi cahaya tersingkap dari mereka demi mendengar kata-katanya.
Ia adalah raja penuh pesona, mencerahkan, dan penuh keluhuran.

Desiran angin lembut sesekali menyentuh hitam rambutnya.

Ya. Ia adalah penguasa tanpa kerajaan, sebab kerajaannya adalah hati dan jiwa manusia.
Ia adalah panglima tanpa prajurit, sebab prajuritnya adalah ketaatan pada kebajikan.

Ia adalah rimba tempat makhluk menikmati hidupnya. Ia adalah sungai, menghantarkan
perahu menuju tujuan, lautan tempat berlayar bahtera-bahtera.


Tiba-tiba dalam pada itu, terdengar gema yang membahana;
sebuah pujian kepada Penguasa Alam, belum pernah kumendengarnya semegah ini!

Kulihat manusia berbondong-bondong datang menyembah-Nya.  Mereka juga menghormati
cahaya di hati mereka yang menjadi hakim bagi diri sendiri. Lalu kulihat cinta bersemi bagai musim yang menghiasi pohon-pohon, mengizinkan bebungaan bermekaran,
dan dunia terasa penuh rahmat dan kasih-Nya.

Bumi dicahayai oleh cahaya keemasan bagai disepuh pelukis tak kasat mata,
maka pagipun pecah bagai wajah perempuan ayu yang terbangun dari kepulasan tidurnya.

Awan-awan menempatkan diri dengan amat indah sambil menggemakan himne,
mengagungkan Sang Pencipta.

Bebatuan khidmat melantunkan Pujian, dan angin bergerak pelan bagai tangan-tangan
bidadari menebarkan sejuta aroma kebahagiaan; tersenyum karena Tuhan membuatnya
mengembara. Kemudian ia menari, menyentuh kelopak bunga yang berseri-seri
memanjatkan syukur kepada Yang Maha Kuasa.

Anak-anak riang bermain di antara keindahan itu.
Orang tua berbahagia atas keimanan dan kerinduan akan wajah-Nya.

Pemuda itu tersenyum melihat semuanya, menikmati hasil dari jerih payahnya,
lalu ia berdoa,

“Ya Alloh terimalah amal-amalku, dan maafkanlah sikap berlebih-lebihanku.”

Perempuan itu terkesima. Pemandangan itu lenyap tiba-tiba.
Dalam keheranannya, pandangannya jatuh pada sesosok wajah yang
damai dalam lelapnya: dikecup kening bayi itu.

“Putraku, aku baru saja melihatmu dalam mimpiku.
Izinkan Ibunda bahagia menjadi tasik yang menghantarkan perahumu.”

Kemudian kulihat perempuan itu berdoa di antara kerja-kerja panjangnya;
kelelahan tak dirasakannya, dikalahkan kebahagiaan memandang Mahkota Cahaya
di kepala sang putra.

Bibirnya tersenyum…
Sekali lagi ia memandang wajah damai dalam pangkuannya.

dan itulah pemandangan terakhir yang
dapat kucapai oleh penglihatanku sebelum semuanya menghilang…

*sebuah rindu lagi . . . Ibunda. Pahlawan Islam ada di sini. Sudah berjanji.

Tags:

saat untuk berpisah

batu

selamat tinggal sahabatku

……….

….

.

Tags:

permohonan maaf

Bolehkah aku duduk disampingmu . . .?

Istriku, lama sekali kuingin mengatakan ini. . .

Aku tak ingin mengatakannya dengan mulutku. Aku ingin sekali engkau tahu bahwa adalah hatiku yang berbicara. Setiap huruf yang kulafazdkan, setiap kata yang kuucapkan, setiap kalimat yang kuutarakan . . . adalah cinta dihatiku yang mengurai . . . hingga habis tak bersisa, pergi menuju hatimu . . .

Bertahun-tahun telah kita jalani kebersamaan ini . . .

Seiring perjalanan ini, setulus hati aku memohonkan kemaafanmu. Aku memohon maaf untuk kata-kata yang mungkin melukai hatimu selama ini. Mungkin ada ucapan yang menyakiti, perilaku yang tak berkenan di hatimu . . Aku memohon maaf kepadamu untuk tanggung jawabku yang tak tertunaikan, amanah yang kupikul namun terabaikan.

Maafkan diriku . . . aku belum bisa menuntun dan mendidikmu dengan baik. Belum juga kudapat memberikan rumah luas untukmu, untuk kita berteduh. Maafkan diriku yang seringkali meminta engkau untuk bersabar dan bersabar. . . Kau maafkankah diriku yang sering lupa berterimakasih kepadamu . . .?

Terimakasih atas ketabahanmu menjalani hari-hari bersamaku. Terimakasih atas segenap pengorbananmu yang terkadang tak kulihat, untuk kerja-kerjamu yang terlupa untuk kuhargai, untuk keletihanmu demi kebaikan hidup kita bersama yang tak kuketahui.

Istriku, dari relung hati yang paling dalam aku memohon . . . maafkan diriku . . . Aku tak sanggup membayangkan bila nanti di hadapan Tuhan engkau menuntutku; mempertanyakan tanggung jawabku . . . menyalahkan kelalaianku . . . Bantulah aku . . . memperbaiki diriku . . . memiliki hati penyayang sepertimu . . .

trans

Tags:

doa seorang hamba

Ya Alloh,
aku memohon kepadamu hati yang teguh;
jiwa yang condong kepada kesucian,
kemantapan meniti waktu untuk berjumpa dengan-Mu.

Ya Alloh,
aku memohon kepada-Mu sebuah hati yang bahagia dalam merangkai hari-hari di dunia ini;
kesenangan menerima setiap bala musibah yang meninggikan derajat dan akhlakku;

Ya Alloh,
jadikan setiap keringatku sebagai air kebahagiaan; jadikan setiap godaan sebagai lahan yang menuntunku menuju kebesaran jiwa, jadikan setiap tantangan sebagai pembangkit naluri perjuanganku, dan jadikan badai besar itu pantas kuterima sebagai tanda kapasitas jiwa.

Ya Alloh
sadarkan diriku bahwa setiap kebaikan itu adalah karunia dari-Mu.

Aku memohon kepada-Mu agar perjumpaan dengan-Mu adalah puncak dari kerinduanku,
dan tumbuhkan kebahagiaan di relung hatiku.

Ya Alloh Yang Maha Agung,
Kuatkan jiwaku dalam menjaga keimanan.
Letakkan kebahagiaan surgawi di lubuk hatiku sehingga jiwaku tetap berbahagia meskipun memegang bara api dunia.

Ya Alloh,
tak ada amal yang dapat kubanggakan di hadapan-Mu, maka luruskanlah niatku sehingga aku dapat berharap amalku yang sedikit itu diterima oleh-Mu.

Anugerahkan diriku keikhlasan dalam setiap kerja-kerja kecilku.

Ya Alloh,
Engkau tahu keimananku yang rapuh, maka jagalah diriku.
Engkau tahu hatiku yang lemah, maka bimbinglah.

Inilah diriku yang penuh debu;
bergelimang dosa;
aku telah jauh berkelana dan tersesat; mencari-cari cahaya di belantara kegelapan; menggapai keindahan namun tak pernah kudapatkan.

Ke mana lagi kuharus melangkah……?

Kini aku kembali kepada-Mu.
memohon kemaafan dari-Mu.
Ya Alloh terimalah diriku…

Tags:

lagi, jatuh cinta lagi

Lagi, aku jatuh cinta.

Jatuh cinta adalah saat aku terpesona melihat keindahannya;
tertawan oleh kebajikannya, terpaku di hadapannya tanpa
kutahu karena apa.

yang kutahu hari ini aku jatuh cinta lagi.

yang kutahu hanyalah rasa nyaman dan inginku berada
di sisinya selalu.

Jatuh cinta adalah jenak dimana jiwa ragaku mereguk
tenaga kehidupan setelah lelah lama menguasai.

Jatuh cinta adalah tenaga untuk mencintai . . .

Sebab mencintai adalah menjadi penyempurna keluhuran
budinya agar aku tetap tertawan.

Sebab mencintai adalah menyirami jiwanya dengan keteduhan
agar ku tetap nyaman.

Sebab mencintai adalah membimbingnya menuju puncak
kesempurnaan agar tetap ku jatuh cinta lagi padanya berulang-ulang.

Tags:

begitu menenangkan

water-21

Setenang telaga di pagi hari yang masih sunyi.

Hatiku tak beriak, tak berombak, tak tergesa-gesa. Kubuka tirai pagi dengan sembah sujud yang paling ikhlas yang dapat kupersembahkan kepadaNya. Bermunajah dengan hati bahagia: bersyukur bahwa hari ini masih ada kesempatan untukku meniti kebaikan.

Hari ini hati begitu tenang. Tak ada keluhan, tak ada cacian, tak ada amarah yang meledak-ledak. Tak juga hatiku menuntut tetapi ia memintaku untuk belajar bersabar dan menuntun.

Aku tersenyum menyambut kebahagiaan yang mendatangiku. Setelah terasa puas, bahwa kebahagiaan membasahi hati dan perasaanku, aku mulai bekerja dengan suasana yang sejuk. Alangkah nikmatnya . . .  tak lagi diriku bekerja dalam amarah. Tak juga kekecewaan mampu merampas ketenanganku.

Segalanya berjalan dengan baik. Kulihat dia yang tampak ramah menyapaku. Kulihat anak-anakku yang riang gembira penuh suka cita, terkadang manja, bahkan mencari perhatian. Tetapi merekalah utusan Tuhan untuk membahagiakan sebuah hati ini.

Senja itu kutunggu. Malam yang indah itu telah membayangiku. Aku ingin bersegera kepadaNya menyampaikan syukurku. Menyujudkan raga dan jiwaku. Setulus hati menghadapNya, sebisaku.

Tags:

cantik selalu

Gadis kecil itu memandangi wajah dihadapannya. Ia meneliti dan menikmati; agaknya, sebuah keterpesonaan telah merenggut hati dan pikirannya.

Tetapi alangkah nestapa, karena ia tak mengerti ungkapan untuk menguraikan isi hati dan perasaannya. Ia sekedar menatap. Wajah itu cantik. Tidak sekedar cantik, tapi juga anggun. Lebih dari itu, ada sesuatu yang tak didapatkannya dari wanita- wanita cantik di luar sana. Ia tak dapat mengatakannya_hanya merasakan. Mungkin itu adalah keteduhan. Ya, keteduhan melingkupi keanggunan, keanggunan berlapis keagungan.

Dengan tatap haru penuh cinta, sang Ibu kemudian berkata,

“Putriku . . . . . . Sesungguhnya wajah yang cantik hanya lahir dari hati yang cantik. Tatapan yang damai hanya mengalir dari jiwa yang damai. Wajah yang agung adalah anugerah bagi mereka yang berbudi luhur.

“Tidakkah kau pernah mendengar nasehat ini . . . . . . untuk bibir indah menawan, ucapkan hanya kata-kata yang baik, untuk pipi nan lesung, tebarkan senyuman ikhlasmu di muka bumi, untuk mata indah jelita, lihatlah kebaikan pada setiap orang, untuk tubuh yang langsing, sisihkan makananmu bagi fakir miskin. Untuk jemari lentik menawan, hitunglah doa dan pujianmu, untuk wajah putih bercahaya, basuhlah wajah di setiap pergantian waktu. . .

“Kecantikan fisik akan memudar seiring waktu . . . Kecantikan budi pekerti tak akan hilang meski oleh kematian. . . Maafkan bila ini terlalu panjang . . . Kecantikan abadi hanya bila engkau telah menginjakkan kakimu di lantai surga. Seberapa cantikkah. . . ? Kecantikannya membuat para bidadari cemburu kepadamu. . . dan engkau adalah pemimpin mereka.

“Maka . . . duhai Permata Ibunda . . . jadilah wanita surga yang masih hidup di dunia. Itulah keluhuran yang Ibu minta . . .”

Tags:

akulah pengantimu

Kanda,

Akulah pengantinmu.

Dan selalu kumenjadi pengantinmu. Hingga kutemui ujung usiaku.

Aku begitu serasi ketika tidur di sampingmu. Aku merasa damai ketika memejamkan mataku. Aku merasa aman menyadari engkau menemaniku. Aku merasa cantik  di hadapanmu. Aku begitu berharga hidup bersamamu.

Engkau akan menemukan senyuman indah  saat engkau membukakan mata dari kepulasan tidurmu. Engkau akan menemukan diriku sebagai orang pertama yang menyapamu ketika tirai malam mulai terangkat. Engkau akan merasakan bahwa akulah orang pertama yang bertutur penuh hangat.

Akulah orang pertama yang tak henti mendoakan untuk kebaikanmu. Aku orang pertama yang bersedia mendengarkan resah gelisahmu. Akulah yang menerima apa adanya dirimu.

. . . karena aku adalah pengantinmu. Selalu. Selamanya.

Tags:

setangkai bunga surga

Kekasihku. Aku baru saja bermimpi.
Kita memiliki rumah idaman. Luas seperti yang kita harapkan.

Dan dindingnya disulam dari warna ungu kesukaanmu di antara putihnya.
Aku meletakan beberapa jambangan bunga cantik di ruang kita.

Dengan hati yang damai, kusiapkan segalanya untukmu. Gelas-gelas yang bercahaya
di kamar, bunga-bunga cantik di sisi ranjang, juga keharuman untuk kau hirup.

Dengarkan . . .
Setiap pagi. Akan kumandikan dirimu. Kubersihkan tubuh indahmu. Kusiramkan perlahan-lahan air yang sejuk itu.

Rambutmu . . . kusisiri perlahan-lahan.
Kukenakan busana terhalus pada tubuhmu.
Diamlah. Cukup diriku yang mengerjakannya.

Bila usai . . . sebuah kecupan paling hangat kuberikan untuk keningmu, hingga
seolah hatimu yang kukecup.

Begitu petang tiba. Kan kuulangi sekali lagi . . .

Kan kulakukan segalanya.
Karena aku ingin memunguti dari pikiranmu kegundahan.
Kubersihkan duka lara, kupetiki resah gelisah . . .
Tak kurelakan sebutir debupun ada di wajahmu . .  .

Hingga hanya kedamaian yang tersisa di wajah ayumu.
Keanggunan yang mencahayainya. Kesentosaan yang memancar dari bola matamu.

Engkau tidak makan kecuali makanan yang kusuapkan dengan segala
ketulusan hatiku. Kusiapkan minuman dan kau teguk saja karena aku membantu
menuangkannya . .  .

Kekasihku . . .
Sebelum engkau jatuh tertidur . . .
Kan kuusapkan kehangatan dari jemariku ke pundak dan tubuhmu.
Kan kusisiri rambutmu serapi-rapinya. Kuelus-elus sampai ketenangan turun
ke hatimu. Sambil kubercerita tentang mimpi-mimpi di masa depan.
Sambil kulantunkan firman-firmanNya yang maha indah.

Tenanglah.
Aku tak akan pergi kemanapun.
Kutemani dirimu. Aku akan duduk di sisimu hingga engkau terpejam.
Dan bila engkau telah di peraduanmu, kuselipkan setangkai bunga.

Kan kutatap dirimu dengan segala kecantikannya hingga aku puas.
Lalu aku akan pergi menghadap Tuhanku mengucapkan rasa terimakasih
sebab telah menganugerahkan bidadari untukku.

Kekasihku . . . ucapkanlah bisikanku . . .
Meski engkau tertidur, aku tahu jiwamu mendengarnya . .  .

Tags:

pengantinku

Harum semerbak memenuhi ruangan. Udara khidmat menyebar hingga ke relung-relung hati. Dengan gamang aku melangkah.Pengantiku menunggu di sana. Aku terus melangkah; menuju hari-hari yang berbeda.

Nyanyian para wanita tua masih mengalun di luar sana, menyelip di antara desau-desau udara malam. Langkahku semakin mendekatkan diriku dengan kamar. Hari ini kali pertama ku melihat wajahnya. Pengantinku. Di depan kelambu sutra aku terpaku. Hatiku berdebar bagai debur-debur ombak. Keringatku mengucur. Inilah detik dimana aku tidak dapat merasakan kehadiran diriku sendiri. Kemudian telingaku merasakan suara halus; mengalun dari balik kelambu sutra.

“Mendekatlah,” kebeningan dari balik kelambu berhembus bagai gemulai angin,”akulah pengantin cintamu.

“Cintaku adalah air kebahagiaan untukmu tanpa kuharus taruh bahagiaku di pundakmu. Cintaku padamu adalah perbaikan bagi keluhuran budimu tanpa menuntut kebaikanmu. Cintaku padamu adalah awal dari penerimaan bahwa engkau adalah kesempurnaan seutuhnya tanpa kuharus meninggalkan penyempurnaan jiwamu.

“Cintaku adalah awal dari perjalanan yang lebih indah menuju Negeri Cahaya. Cintaku adalah waktu untukku memberi segalanya untukmu.

“Datanglah padaku…

“Akulah telinga yang mendengarkan keluhanmu. Akulah senyuman yang memuji pengorbananmu. Akulah pundak tempatmu menaruh beban-beban. Akulah telaga tempatmu berlabuh.

“Aku adalah muara tempat kemarahanmu berlabuh. Aku adalah tasik tempatmu mendamaikan jiwa. Kata demi kata dari gadis muda itu menyelinap ke ruang jiwaku. Asmara muda dan cinta belia membelai-belai jiwaku. Aku bagai berjalan di antara bunga-bunga melur di bawah siraman cahaya kemilau. Ketika tanganku tak sanggup menyentuh kelambu sutra, seketika sebuah tangan indah menjulur dari sana. Terbukalah…

“Engkau adalah kata-kata dari puisiku; yang bersanding di belantara kebahagiaan. Engkau adalah ombak dari pantaiku, menggairahkan nafas hidupku. Engkaulah warna dari tintaku…

“Waktu menyusun sejarah. Pertemuan kita membuahkan kisah: tentang cinta teramat indah.”

Aku berdiri lagi di sini. Tiga tahun telah berlalu. Dan malam ini aku tetap bergetar menatap pengantinku.

Tags: